Su-35 Bikin TNI AU Makin Bertaring, Australia atau Negara Asing Lain Tak Bisa Lagi Iseng di Langit Indonesia

Para pilot tempur (fighter) yang terwadahi dalam satuan-satuan berupa skadron angkatan udara (air force) merupakan ujung tombak dari kekuatan udara (air power) yang telah terbangun sekaligus menjadi tolok ukur kemampuan tempur kekuatan udara negara bersangkutan.

Semua kekuatan udara yang dimiliki oleh negara-negara di seluruh dunia dari sisi kualitas dan kemampuan daya pukulnya sangat ditentukan oleh kemampuan serta ketrampilan para pilotnya.

Oleh karena itu seorang pilot tempur menjadi demikian berharga karena dalam setiap missi tempurnya, ia mampu menghancurkan sasaran yang tidak terbatas, dan kadang-kadang menjadi wahana untuk menyelesaikan masalah secara tuntas (final solution). 

Satu bom yang dijatuhkan oleh psawat tempur bisa menghancurkan satu kapal perang berisi ribuan personel pasukan atau menghancurkan kendaraan-kendaraan tempur dan fasilitas militer lainnya dalam hitungan menit.

Oleh karena itu, kehadiran pesawat tempur di udara berusaha dicegah dengan segala daya upaya baik dengan mengerahkan kekuatan tempur di darat maupun di udara agar tidak menimbulkan bencana.

Upaya menghadang pesawat musuh di udara menjadikan ruang udara menjadi ajang pertempuran, duel udara, yang sangat mematikan.

Sekali lagi kemampuan seorang pilot tempur diuji melalui dogfight sebelum missi tempurnya suskes menghantam sasaran.

Jet tempur Su-35

Seorang pilot dalam suatu dogfight bisa menimbulkan kerugian besar bagi pihak lawan, seperti para pilot kamikaze Jepang yang mempunyai misi khusus menghancurkan kapal-kapal perang Sekutu.

Satu pilot kamikaze yang gugur biasanya membawa pula kematian bagi ratusan bahkan ribuan personel lawan yang gugur dalam satu kapal perang yang hancur akibat dihantam pesawat kamikaze.

Sebaliknya pesawat-pesawat pembom yang lolos dari sergapan pesawat fighter juga bisa menciptakan kerusakan hebat bagi fasilitas militer lawan karena bom-bom yang dijatuhkan demikian beragam dan memiliki daya hancur yang luar biasa.

Sejarah telah membuktikan bahwa hanya butuh satu pesawat pembom untuk menyelesaikan peperangan di kawasan Asia-Pasifik, yakni pesawat pembom B-29 yang berhasil menjatuhkan bom atom di kawasan Hirosima dan Nagasaki Jepang

Oleh karena demikian vital peran pesawat tempur dalam suatu peperangan, duel udara untuk saling menghancurkan pesawat lawan demi meraih supremasi udara dan sekaligus gelar ace bagi para pilotnya menjadi demikian mematikan.

Seperti seorang penembak jitu (sniper) yang makin berkibar namanya karena berhasil mengeleminasi musuh terpilih sebanyak mungkin, demikian juga seorang pilot ace.

Makin banyak seorang pilot ace merontokkan pesawat musuh, namanya pun akan menduduki peringkat teratas bak kesatria udara yang tak terkalahkan. 

Pilot ace dengan peringkat teratas bahkan menjadi semacam simbol pahlawan perang yang dibanggakan oleh seluruh pasukan di negaranya dan mampu menaikkan moril tempur pasukan yang sedang jatuh.

Bahkan ketika negara asal para pilot ace kalah dalam peperangan, nama para pilot ace tetap berkibar dan dikenang sepanjang massa. 

Seperti pilot TNI AU Kapten Ignatius Dewanto yang pernah menembak jatuh pesawat pembom B-26 AUREV Permesta di atas Ambon pada Mei 1958.

Tentu saja untuk mencapai keunggulan udara (air superiority), selain didukung oleh profesionalisme para pilotnya juga harus didukung oleh ketersediaan pesawat-pesawat tempur berteknologi canggih.

Hadirnya satu skadron SU-35, kelak  di jajaran TNI AU jelas akan mampu menaikkan keunggulan udara itu. Sekaligus menunjukkan air power TNI AU yang makin bertaring dan menciptakan efek gentar (detterent) yang makin nggenggirisi (lethal)

Negara-negara asing, termasuk Australia (yang kerap pesawatnya kerap terbang melanggar batas) mesti berhitung ulang. Mereka tak bisa lagi memandang remeh kekuatan udara Indonesia.