Inilah 8 Ketangguhan Pasukan Elite TNI Bikin Tentara Asing Kagum, Siap Tempur di Semua Medan

Kemampuan dan ketangguhan pasukan elite TNI tidak perlu diragukan lagi. Bahkan, kehebatan mereka telah diakui dunia internasional. Tak jarang, sejumlah tentara asing kagum dengan ketangguhan pasukan elite TNI.

Pujian-pujian dari pasukan asing juga kerap diterima oleh para prajurit TNI. Sudah sepantasnya, sebagai masyarakat Indonesia berbangga hati memiliki pasukan elite TNI yang diakui dunia. Berikut 8 ketangguhan pasukan elite TNI yang bikin tentara asing kagum.

Komando Pasukan Katak (Kopaska)

Komando Pasukan Katak (Kopaska) merupakan salah satu pasukan elite TNI Angkatan Laut. Ketangguhan dan kemampuan pasukan elite ini disegani oleh negara-negara asing. Tahukah kalian, Kopaska dijuluki sebagai Raja Lautan karena ketangguhannya.


Tak hanya itu, Kopaska juga dijuluki sebagai hantu laut oleh masyarakat. Hal ini lantaran Kopaska mampu berenang dari tengah laut hingga pinggir pantai tanpa bantuan oksigen. Ini juga menjadi salah satu latihan paling mematikan bagi seseorang yang tak mampu.

Selain itu, pasukan elite TNI yang dididik secara khusus selama 6 bulan ini juga harus mampu menguasai teknik bawah laut. Mulai dari menyelam, menjinakkan ranjau, penyelamatan laut dalam hingga penyerbuan dalam laut. Dengan tuntutan tugas seperti itu membuat pasukan elite Kopaska diwajibkan lulus dalam tes ketahanan air serta kesehatan khusus bawah air.

Korps Pasukan Khas (Paskhas)

Korps Pasukan Khas atau Paskhas merupakan salah satu pasukan elite Angkatan Udara. Jangan menyepelekan pasukan ini. Sebab, Paskhas memiliki kemampuan tempur di atas rata-rata. Bahkan, para personelnya memiliki kemampuan lengkap serta berkualifikasi Para Komando seperti Kopassus TNI AD.

Paskhas mampu bertempur di hutan, gunung, rawa hingga laut. Para prajurit Paskhas juga dapat melakukan infiltrasi melalui udara ataupun laut secara rahasia. Selain itu, Paskhas juga memiliki kemampuan dalam menangani pembajakan udara serta pembebasan sandera di dalam pesawat. Tak hanya di pesawat, pasukan elite TNi ini juga bisa melakukan pembebasan sandera di bus yang melaju kencang, kereta api hingga gedung perkantoran.


Sebagai pasukan di bawah matra TNI AU, tugas Paskhas adalah merebut lapangan udara musuh. Mereka akan mengadakan serangan airborne atau penerjunan pasukan dari udara baik tim kecil ataupun secara besar-besaran. Selain itu, Paskhas juga mampu menyelamatkan pilot yang jatuh di area musuh atau personel yang hilang dan cidera di tengah pertempuran. Tak semua personel militer memiliki kemampuan khusus ini. Misi-misi SAR tempur pun jatuh pada Paskhas TNI AU.

Pernah menonton Film Hollywood mengenai pasukan elite yang terjun dari pesawat dan menyusup ke wilayah musuh tanpa ketahuan? Seperti itulah kira-kira tugas Tim Dalpur atau Pengendalian Tempur. Tim Dalpur dikenal sebagai tim elite Paskhas. Mereka diterjunkan sebagai pasukan pendahulu sebelum serangan. Menyusup ke wilayah musuh dan mengumpulkan data intelijen.

Kemampuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus)

Kemampuan Komando Pasukan Khusus atau Kopassus sebagai pasukan elite TNI sudah tidak perlu diragukan. Kopassus memiliki kemampuan yang luar biasa seperti bergerak cepat di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan anti-teror. Inilah yang menjadikan Kopassus disegani dunia internasional. Kopassus juga masuk dalam daftar 5 pasukan elite Indonesia yang disegani.


Setiap pasukan elite di dunia punya teknik bela diri. Jika peluru sudah habis, maka pertempuran akan dilanjutkan dengan pisau atau tangan kosong. Ada beberapa bela diri yang dikuasai anggota Kopassus. Pertama adalah Yongmoodo yang menjadi bela diri wajib militer di Indonesia. Anggota Kopassus juga menguasai seni bela diri Merpati Putih. Selain itu keahlian menembak sasaran secara tepat menjadi syarat mutlak anggota pasukan elite seperti Kopassus.

Kopassus telah menorehkan catatan tinta emas dalam mengemban setiap misi salah satunya Operasi Pembebasan Sandera. Kehebatan dan kekuatan yang dimilikinya Kopassus tidak perlu diragukan lagi. Ini yang membuatnya disegani militer negara lain. Bahkan, sejumlah negara di dunia meminta Kopassus untuk melatih pasukan militernya, seperti negara-negara di Afrika Utara dan Kamboja.

Peleton Intai Tempur (Tontainpur)

Peleton Intai Tempur atau Tontainpur merupakan pasukan elite yang berada di bawah Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Para personelnya diambil dari kesatuan di bawah Kostrad. Perlu untuk diketahui, tidak semuanya bisa menjadi bagian dari pasukan elite ini. Kualifikasi yang diberikan cukup tinggi, sehingga hanya 500 prajurit saja yang bisa lulus.


Sesuai namanya, Tontainpur dilatih untuk bisa menguasai kemampuan darat, laut serta udara. Seluruh latihan dilakukan di markas-markas pasukan elite yang dimiliki TNI, yakni latihan tempur di Gunung Sangga Buana, latihan intelijen/Sandha di Pusdik Passus, latihan teknik tempur bawah air di Satuan Pasukan Katak Armada RI Kawasan Barat dan latihan aplikasi latihan berganda di Situ Lembang.

Latihan tersebut tentu saja untuk menguji kemampuan personel agar efektif di medan tempur.Seluruh latihan dilakukan di markas-markas pasukan elite yang dimiliki TNI, yakni latihan tempur di Gunung Sangga Buana, latihan intelijen/Sandha di Pusdik Passus, latihan teknik tempur bawah air di Satuan Pasukan Katak Armada RI Kawasan Barat dan latihan aplikasi latihan berganda di Situ Lembang.

Detasemen Jala Mangkara (Denjaka)

Detasemen Jala Mangkara atau Denjaka merupakan pasukan elite di bawah garis komando Marinir TNI AL. Tidak mudah menjadi pasukan elite ini. Mereka harus menjalani pelatihan yang sangat berat, sehingga setiap tahunnya hanya 50 orang saja yang lulus dari pelbagai latihan.


Sebagai calon prajurit Denjaka, setiap peserta tak cuma dituntut fisik yang prima, tetapi juga kecerdasan yang tinggi. Syarat ini diberikan mengingat pasukan ini sering ditugaskan untuk melakukan penyusupan di daerah operasi secara individu maupun kelompok. Dari semua latihan yang pernah dijalani, latihan yang dilakukan di Banyuwangi merupakan yang paling berat. Di mana setiap prajurit diikat kaki dan tangannya dan dibuang ke dalam laut. Dengan keadaan itu, mereka diminta bertahan hidup dan meloloskan diri.

Selanjutnya, mereka tidak dibolehkan membawa perbekalan apapun, termasuk minum saat berlatih di dalam hutan. Selama tiga hari tiga malam, para prajurit tidur di tengah hutan rimba, terkadang lebih dari itu. Selain fisik, prajurit juga dilatih mental, mulai dari terjun tempur baik siang dan malam, menyelam hingga renang di tengah laut tanpa bantuan apapun. Setelah lulus, mereka bisa mendapatkan baret ungu.

Satuan Bravo 90 (Sat Bravo-90)

Dibanding dengan dua kakaknya di Sat-81 TNI AD dan Denjaka TNI AL, Bravo bisa disebut anak bungsu. Den Bravo 90 dibentuk pada tahun 1990 di Markas Korps Pasukan Khas TNI AU, Margahayu Bandung. Karena lahir di tubuh TNI AU, pasukan ini memiliki spesialisasi antiteror udara.

Bravo-90 juga melengkapi personelnya dengan beragam kualifikasi khusus tempur lanjut. Mulai dari combat free fall, scuba diving, pendaki serbu, teknik terjun HALO (High Altitude Low Opening) atau HAHO (High Altitude High Opening), para lanjut tempur, pertempuran jarak dekat dan antiteror.

Perlu untuk diketahui, Pasukan Bravo diseleksi dari anggota Korps Pasukan Khas TNI AU yang telah menyelesaikan pendidikan terjun dan komando. Hanya mereka yang lulusan terbaik bisa bergabung.

Batalyon Intai Amfibi (YonTaifib)

Batalyon Intai Amfibi atau YonTaifib merupakan satuan elite Korps Marinir. Satuan ini sebelumnya dikenal dengan nama Komando Intai Para Amfibi (Kipam). Perekrutan prajurit dilakukan secara sukarela dari anggota Marinir yang berada di seluruh bagian tempur. Baik infanteri, artileri, kavaleri, bantuan tempur dan pertahanan pangkalan. Sebab, mereka dianggap telah memiliki teknik pertempuran dasar.


Untuk menjadi bagian di dalamnya, setiap calon anggota harus memenuhi syarat mental, fisik, kesehatan, dan telah berdinas aktif minimal dua tahun. Setelah lulus seleksi awal, latihan permulaan yang dilakukan adalah berenang dalam kondisi tangan dan kaki terikat sejauh 3 km.

Seperti pasukan elite lainnya, metode pelatihan dibagi dalam beberapa tahap (tiga matra) yakni darat, laut, udara dan bawah air. Seluruhnya dijalani selama 9 bulan di 8 Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur).

Batalyon Raiders TNI AD

Batalyon Raiders TNI AD merupakan salah satu ide yang digagas oleh Kepala Staf TNI AD Jenderal Ryamizard Ryacudu. Di mana Jenderal Ryamizard Ryacudu memiliki ide membentuk pasukan elite di seluruh Komando Daerah Militer (Kodam). Untuk mewujudkannya, Jenderal Ryamizard Ryacudu meningkatkan kualifikasi 10 pasukan infanteri reguler menjadi Raiders.


Sebagian personel Raiders dilatih kemampuan antiteror di Pusdik Passus milik Kopassus. Pasukan ini memiliki kemampuan sebagai pasukan anti-teroris untuk pertempuran jarak dekat, lawan gerilya dengan mobilitas tinggi dan melakukan pertempuran-pertempuran berlanjut. Kemampuannya tiga kali pasukan infanteri biasa.

Setiap batalyon ini dilatih untuk memiliki kemampuan tempur tiga kali lipat dari batalyon infanteri biasa. Mereka dilatih untuk melakukan penyergapan dan mobil udara, seperti terjun dari helikopter. Pasukan elite ini kemudian diresmikan Jenderal Ryamizard tanggal 22 Desember 2003. Mungkin karena Raiders, Indonesia bisa mendapat predikat negara yang memiliki pasukan elite terbanyak.