Hermawan Sulistyo: Menhub Pemicu #IndonesiaTerserah, Tim Medis dan TNI/Polri Dibunuh Pelan-pelan!

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membuka kembali operasional moda transportasi, baik darat, udara maupun laut.

Kebijakan itu lantas menuai protes keras dan kecaman dari berbagai pihak.

Akibat kebijakan ini, ribuan orang bisa bebas hilir-mudik.

Tak menutup kemungkinan pula, di antara ribuan orang itu, terdapat pembawa virus corona atau Covid-19.

Demikian disampaikan pengamat politik Hermawan Sulistyo kepada RMOL, Kamis (21/5/2020).

Hermawan menilai, kebijakan ini sama saja dengan membunuh pelan-pelan tim medis serta anggota TNI/Polri di lapangan.

“Kebijakan ini, bukan hanya melecehkan profesi medis, polisi dan petugas di lapangan. Tapi juga membunuh mereka secara pelan-pelan!” kecam Hermawan.

Hermawan menilai, kebijakan Budi Karya Sumadi ini hanya mencari popularitas dan mengutamakan oeprator transportasi umum saja.

Tapi di sisi lain, kebijakan tersebut malah mengorbankan ribuan masyarakat lainnya.


“Kebijakan Menhub membangkitkan sikap #IndonesiaTerserah. Ini sangat berbahaya bagi ketahanan nasional,” tegasnya.

Kebijakan tersebut juga dinilai bertentangan dengan kebijakan sejumlah kementerian yang selama ini menjaga agar dapat memutus mata rantai Covid-19.

“Keputusan Menhub ini bertentangan dengan keputusan Satgas Covid-19, Kementerian Kesehatan, dan terutama sikap Presiden Jokowi sendiri,” ujarnya.

Di sisi lain, kebijakan Pemerintahan Jokowi dalam penanganan wabah corona atau Covid-19 kerap membingungkan masyarakat.

Pasalnya, dalam mengeluarkan kebijakan, Pemerintah kerap kali berubah-ubah atau mencla-mencle, utamanya berkaitan dengan wabah corona.

Tak jarang pula, Presiden Jokowi membuat pernyataan yang berujung pada koreksi, baik oleh dirinya sendiri maupun para pembantunya di Kabinet Indonesia Maju.

“Berapa kali presiden dan jajarannya menteri-menterinya itu nyatakan A hari ini, lalu dua hari kemudian dibantah oleh koleganya sendiri. Atau bahkan oleh dirinya sendiri, atau bahkan harus meluruskan,” ungkap analis politik Universitas Islam Indonesia (UII), Geradi Yudhistira.

Akibat pernyataan dan kebijakan yang mencla-mencle itu, katanya, bisa memicu ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi.

“Ini berulang kali terjadi sehingga yang terjadi adalah distrust dan ini buruk sekali menurut saya,” tegasnya.

“Distrust ini kalau sudah terjadi, atau ketidakpercayaan ini buruk sekali terhadap pemerintah,” sambungnya.

Pernyataan mencla-mencle yang selalu berulang dapat memunculkan distrust terhadap segala sesuatu kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan Jokowi.

Jika distrust masyarakat sudah pada level tertinggi, maka sebaik apapun langkah yang diambil pemerintah tetap akan sulit dipercaya.

Bahkan masyarakat bisa abai dengan program-program yang dikeluarkan.

“Walaupun itu program yang benar"  ingat Geradi